Dewasa ini orang-orang
sibuk membicarakan isu-isu kebebasan. Freedom atau kebebasan yang
dimaknai oleh orang-orang saat ini, lebih berbicara tentang kebebasan
hawa nafsu mereka. “Kebebasan untuk Berekspresi!”, itulah yang mereka
teriakan untuk memanasi semangat para pemuda. Siapapun yang menentang
semangat ini, akan langsung di cap sebagai orang yang konservatif, tua,
atau kolot. Lalu muncullah orang-orang yang menamakan diri mereka
“Generasi Muda Menolak Tua”. Bebaskan! Keluarkan semua ekspresimu!
Tanpa perlu takut sedikitpun! Tak ada yang bisa menghalangimu! Dan
slogan-slogan ini dijadikan tema-tema lagu, yang secara tidak sadar
memengaruhi alam bawah sadar kita, meng-indoktrinasi kita secara halus,
lalu lambat laun kitapun mengamininya. “Ya! Kita harus bebas,
sebebas-bebasnya!” Mari kita analisa hal ini dari berbagai sudut
pandang. Dari berbagai proyeksi yang bisa kita lakukan. Pertama, tentu
kita setuju dan sangat gembira dengan semangat para pemuda yang mulai
berani mengekspresikan pemikirannya, ide-idenya, kreatifitasnya,
gagasannya dan berbagai hal positif yang meningkatkan produktivitas
bangsa dan negara. Ini tentu menjadi suatu hal yang baik. Ketika
kebebasan menjadi hal yang konstruktif, menjadi wadah dan tempat
ditampungnya ide-ide cerdas dan brillian. Kedua, gejolak generasi muda
yang menggebu-gebu, penuh semangat, dan emosional tentu sangat baik
jika bisa disalurkan didalam wadah yang tepat. Tidak hanya ditahan,
karena bila kita hanya bisa menahan hasrat dan keinginannya, justru
akan berdampak buruk. Seperti model kebutuhan yang disebutkan Abraham
Maslow, setelah kebutuhan fisiologi seseorang terpenuhi, lalu akan
meningkat menjadi kebutuhan keamanan, kemudian sosial, kemudian
penghargaan, dan yang terakhir adalah kebutuhan untuk
mengaktualisasikan dirinya. Dan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu
tentunya diperlukan wadah untuk membebaskan dirinya dan meng-eksplore
kelebihan dan kekurangan dirinya. Semua itu dilakukan oleh kita, hingga
mampu menemukan keseimbangan pada kondisi yang nyaman dan cocok untuk
kita. Begitulah sunnatullohnya, seperti planet-planet yang mengisi
setiap orbitnya sesuai keseimbangannya masing-masing. Hal-hal positif
seperti yang diterangkan diatas, tentunya sangat baik dilakukan bagi
para remaja yang sedang menuju proses kematangan diri (dewasa).
Individu merdeka yang dimaksud seharusnya diartikan menjadi individu
yang merdeka sesuai dengan aturan. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita
berada di dalam aturan. Begitulah alam ini tercipta, berkembang, dan
menjaga stabilitasnya. Penuh dengan keteraturan. Lihatlah dalam ukuran
mikrokosmos. Ketika elektron-elektron berputar mengelilingi inti atom
secara teratur, dan saat terjadi gangguan, atom tersebut akan menjadi
atom yang tidak stabil. Lihatlah dalam ukuran makrokosmos, perputaran
planet-planet mengitari pusat tata surya (matahari), semua berada di
dalam manzilah-manzilah yang juga sesuai aturannya. Perputaran elektron
mengitari inti atom, perputaran planet mengitari matahari, terlihat
seperti perputaran yang bebas, namun sesungguhnya pergerakannya itu
sesuai aturan. Kebebasan itu ada aturannya. Orang-orang yang memiliki
mind set berpikir liberal pasti tidak sepakat dengan hal ini. Mereka
berpikir kebebasan itu tidak boleh dibatasi. Sebaliknya bagi orang-orang
yang konservatif, mereka berpikir kebebasan itu sama sekali tidak ada.
Sesungguhnya, selalu ada jalan tengah diantara keduanya. Walau
bagaimanapun, seseorang itu memang selalu diberikan kebebasan. Bebas
memilih apapun yang akan dijalani di dalam hidupnya. Tapi, ketahuilah
kita tidak akan pernah bisa lepas dari konsekuensi pilihan kita. Sebagai
contoh, kita memilih untuk tidak masuk kuliah pada suatu saat,
konsekuensi yang akan kita dapat adalah kita tidak akan mendapat
pelajaran yang diajarkan dosen saat itu. Menjadi seseorang yang
relijius, menjadi orang yang urakan, memilih jurusan kuliah, menjadi
seorang introvert atau ekstrovert, bahkan untuk melakukan hal-hal kecil,
memilih menu makan siang, memilih pakaian hari ini, memilih saluran
televisi, dan lain-lain. Kita selalu dihadapkan pada berbagai plihan.
Dan kita bebas untuk memilih apapun. Tapi ingatlah, kita tidak akan
pernah bisa lepas dari konsekuensi pilihan kita. Artinya, kita harus
mempunyai cara, agar setiap pilihan yang kita putuskan adalah pilihan
yang tepat.Sabtu, 10 Agustus 2013
Individu Merdeka (Hitam-Putih Arti Sebuah Kebebasan)
Dewasa ini orang-orang
sibuk membicarakan isu-isu kebebasan. Freedom atau kebebasan yang
dimaknai oleh orang-orang saat ini, lebih berbicara tentang kebebasan
hawa nafsu mereka. “Kebebasan untuk Berekspresi!”, itulah yang mereka
teriakan untuk memanasi semangat para pemuda. Siapapun yang menentang
semangat ini, akan langsung di cap sebagai orang yang konservatif, tua,
atau kolot. Lalu muncullah orang-orang yang menamakan diri mereka
“Generasi Muda Menolak Tua”. Bebaskan! Keluarkan semua ekspresimu!
Tanpa perlu takut sedikitpun! Tak ada yang bisa menghalangimu! Dan
slogan-slogan ini dijadikan tema-tema lagu, yang secara tidak sadar
memengaruhi alam bawah sadar kita, meng-indoktrinasi kita secara halus,
lalu lambat laun kitapun mengamininya. “Ya! Kita harus bebas,
sebebas-bebasnya!” Mari kita analisa hal ini dari berbagai sudut
pandang. Dari berbagai proyeksi yang bisa kita lakukan. Pertama, tentu
kita setuju dan sangat gembira dengan semangat para pemuda yang mulai
berani mengekspresikan pemikirannya, ide-idenya, kreatifitasnya,
gagasannya dan berbagai hal positif yang meningkatkan produktivitas
bangsa dan negara. Ini tentu menjadi suatu hal yang baik. Ketika
kebebasan menjadi hal yang konstruktif, menjadi wadah dan tempat
ditampungnya ide-ide cerdas dan brillian. Kedua, gejolak generasi muda
yang menggebu-gebu, penuh semangat, dan emosional tentu sangat baik
jika bisa disalurkan didalam wadah yang tepat. Tidak hanya ditahan,
karena bila kita hanya bisa menahan hasrat dan keinginannya, justru
akan berdampak buruk. Seperti model kebutuhan yang disebutkan Abraham
Maslow, setelah kebutuhan fisiologi seseorang terpenuhi, lalu akan
meningkat menjadi kebutuhan keamanan, kemudian sosial, kemudian
penghargaan, dan yang terakhir adalah kebutuhan untuk
mengaktualisasikan dirinya. Dan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu
tentunya diperlukan wadah untuk membebaskan dirinya dan meng-eksplore
kelebihan dan kekurangan dirinya. Semua itu dilakukan oleh kita, hingga
mampu menemukan keseimbangan pada kondisi yang nyaman dan cocok untuk
kita. Begitulah sunnatullohnya, seperti planet-planet yang mengisi
setiap orbitnya sesuai keseimbangannya masing-masing. Hal-hal positif
seperti yang diterangkan diatas, tentunya sangat baik dilakukan bagi
para remaja yang sedang menuju proses kematangan diri (dewasa).
Individu merdeka yang dimaksud seharusnya diartikan menjadi individu
yang merdeka sesuai dengan aturan. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita
berada di dalam aturan. Begitulah alam ini tercipta, berkembang, dan
menjaga stabilitasnya. Penuh dengan keteraturan. Lihatlah dalam ukuran
mikrokosmos. Ketika elektron-elektron berputar mengelilingi inti atom
secara teratur, dan saat terjadi gangguan, atom tersebut akan menjadi
atom yang tidak stabil. Lihatlah dalam ukuran makrokosmos, perputaran
planet-planet mengitari pusat tata surya (matahari), semua berada di
dalam manzilah-manzilah yang juga sesuai aturannya. Perputaran elektron
mengitari inti atom, perputaran planet mengitari matahari, terlihat
seperti perputaran yang bebas, namun sesungguhnya pergerakannya itu
sesuai aturan. Kebebasan itu ada aturannya. Orang-orang yang memiliki
mind set berpikir liberal pasti tidak sepakat dengan hal ini. Mereka
berpikir kebebasan itu tidak boleh dibatasi. Sebaliknya bagi orang-orang
yang konservatif, mereka berpikir kebebasan itu sama sekali tidak ada.
Sesungguhnya, selalu ada jalan tengah diantara keduanya. Walau
bagaimanapun, seseorang itu memang selalu diberikan kebebasan. Bebas
memilih apapun yang akan dijalani di dalam hidupnya. Tapi, ketahuilah
kita tidak akan pernah bisa lepas dari konsekuensi pilihan kita. Sebagai
contoh, kita memilih untuk tidak masuk kuliah pada suatu saat,
konsekuensi yang akan kita dapat adalah kita tidak akan mendapat
pelajaran yang diajarkan dosen saat itu. Menjadi seseorang yang
relijius, menjadi orang yang urakan, memilih jurusan kuliah, menjadi
seorang introvert atau ekstrovert, bahkan untuk melakukan hal-hal kecil,
memilih menu makan siang, memilih pakaian hari ini, memilih saluran
televisi, dan lain-lain. Kita selalu dihadapkan pada berbagai plihan.
Dan kita bebas untuk memilih apapun. Tapi ingatlah, kita tidak akan
pernah bisa lepas dari konsekuensi pilihan kita. Artinya, kita harus
mempunyai cara, agar setiap pilihan yang kita putuskan adalah pilihan
yang tepat.
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar